REI DKI Rilis Riset Industri Properti Terkini
- 2018-05-24
DPD REI DKI Jakarta melaksanakan Riset Properti sebagai salah satu program kerja strategis
Jakarta, HarianProperti.com-DPD REI DKI Jakarta melaksanakan Riset Properti sebagai salah satu program kerja strategis. Hasil riset ini digunakan sebagai dasar oleh para pelaku industri, pemerintah maupun stakeholder untuk mengambil kebijakan, atau tindakan. Ini adalah kali pertamanya REI DKI mengeluarkan survei mengenai kondisi properti terkini.
Chandra Rambey Wakil Ketua Bidang Riset & Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta mengatakan bahwa Riset ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode pengumpulan data primer berupa survei melalui penyebaran kuesioner atau wawancara kepada anggota REI DKI berjumlah 350 anggota yang tersebar di Jabodetabek dan luar daerah.
Ketua DPD REI DKI Jakarta, Amran Nukman dalam paparannya survei menyampaikan, 55% pengembang anggota REI DKI Jakarta menilai bahwa kondisi properti di 2018 tetap sama dibanding tahun sebelumnya, sedangkan 34% lainnya optimis kondisi properti 2018 lebih baik. “Mayoritas tetap merencanakan mengembangkan perumahan sederhana, menengah atas dan apartemen, dengan prioritas kebutuhan infrastruktur berupa air bersih dan jalan”, ujarnya.
Dari sisi Capital Expenditure (Capex), pada tahun 2018 ini sebanyak 33% pengembang anggota REI DKI Jakarta membutuhkan Capex masing-masing antara Rp 100 milar-Rp 500 miliar.
Di tengah optimis tersebut, hasil riset juga menyatakan bahwa industri realestae sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yakni perpajakan, perijinan dan suku bunga kredit. Khusus di DKI Jakarta, peizinan masih menjadi tatangan tersendiri. Sebanyak 69% responden menyatakan lebih mudah memperoleh perizinan di luar DKI dibanding dengan DKI Jakarta sendiri.
Di akhir paparan, Amran menyampaikan bahwa kondisi properti saat ini memang sedang menghadapi tekanan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), namun pengembang dan pasar properti harus tetap optimis kondisi 2018 akan semakin membaik.
“Apabila sektor properti menggeliat akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi karena mempunjDi akhir penjalan, Amran menyampaikan bahwa kondisi properti saat ini memang sedang menghadapi tekanan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), namun pengembang dan pasar properti harus tetap optimis kondisi 2018 akan semakin membaik.
“Apabila sektor properti menggeliat akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi karena mempunyai multiflier effect yang tinggi dengan 175 industri turunan dan peyai multiflier effect yang tinggi dengan 175 industri turunan dan penyerapan tenaga kerja yang besar.
Untuk mengetahui hasil survei lebih lanjut, HarianProperty.com akan mengangkat survei ini menjadi rubrik utama kami.


Comment